Selasa, 21 November 2017

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI (PENGGUNAAN GOOGLE FORM)

Semakin berkembangnya teknologi, semakin memudahkan kita dalam melakukan banyak hal. Contohnya seperti pada saat kita ingin melakukan penelitan, sebelum adanya google form, kita membagikan kuesioner secara manual. Google Form atau yang disebut google formulir adalah alat yang berguna untuk membantu anda merencanakan acara, mengirim survei, memberikan siswa atau orang lain kuis, atau mengumpulkan informasi yang mudah dengan cara yang efisien. Form juga dapat dihubungkan ke spreadsheet. Jika spreadsheet terkait dengan bentuk, tanggapan otomatis akan dikirimkan ke spreadsheet. Jika tidak, pengguna dapat melihat mereka di “Ringkasan Tanggapan” halaman dapat diakses dari menu Tanggapan.

Salah satu alasan dari banyak pengguna yang mungkin tidak menyadari Google Form adalah bahwa mereka ditemukan bukan sebagai aplikasi terpisah, melainkan sebagai bagian dari Google Drive. Dengan demikian, untuk membuat formulir baru, anda harus terlebih dahulu login ke gmail atau Google Apps. Dengan Spreadsheets memungkinkan untuk menunjukan bagaimana anda dapat menggunakan software ini untuk mengajukan berbagai pertanyaan, termasuk dimana pengguna anda merespon dengan jawaban teks sederhana atau respon teks lebih lanjut. Anda dapat meminta pertanyaan pilihan ganda, daftar pertanyaan, pertanyaan skala, dan masih banyak lagi. Ketika berbagi formulir anda dengan orang lain, anda dapat mengatur mereka untuk tampil dengan tema yang mengesankan dengan akses yang mudah.

Manfaat Google Form untuk aktifitas sehari-hari :
Distribusi dan tabulasi online dan real-time
Real time collaboration: 50 orang dapat bekerja dalam satu berkas dalam satu waktu. Setiap perubahan disimpan secara otomatis.
Aman: menyimpan berkas penting atau tugas sekolah tidak takut hilang atau rusak atau terkena virus.
Mendorong paperless culture: tidak lagi print-print formulir, semuanya dijadikan online, bahkan tabulasi hasilnya pun otomatis dan sudah online

Contoh Penggunaan Google Form dalam bidang psikologi adalah membagikan kuesioner guna penelitian dalam bidang psikologi.


SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI (LAYANAN PSIKOLOGI)

Selain dapat digunakan untuk memberi hasil tes psikologi, SIP (sistem informasi psikologi) juga dapat dimanfaatkan untuk layanan psikologi atau yang biasa disebut psikolog online.

Kelebihan Psikolog Online

Saat ini, banyak orang yang tidak mau mengikuti konsultasi psikologi karena adanya rasa minder dan takut. Banyak yang merasa bahwa ketika sudah datang ke psikolog, artinya mereka mengalami masalah yang serius dan sering dianggap sakit jiwa. Namun demikian, hal ini sebenarnya kurang tepat. Karena itu psikolog online bisa menjadi alternatif yang cukup membantu mengatasi masalah ini. Dengan adanya psikologi online, seseorang tidak perlu merasa takut, karena identitas mereka benar-benar akan dirahasiakan. Mereka tidak perlu takut akan ada orang yang melihat mereka datang ke psikolog, dan tidak perlu takut juga ada orang lain yang mengetahui masalah mereka.
Kelebihan berikutnya dari psikolog online adalah lebih mudah dijangkau. Tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pergi ke biro atau klinik psikologi, cukup mengirimkan email, atau bertanya melalui chat yang disediakan oleh situs psikolog online. Hal ini akan membuat layanan psikologi, seperti konseling menjadi lebih mudah dijangkau dan lebih mudah untuk dilaksanakan.
Layanan psikologi online biasanya termasuk ke dalam layanan psikolog online gratis, sehingga anda tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bertanya. Hal ini sangat cocok untuk anda yang ingin bertanya atau berkonsultasi tentang beberapa hal yang menyangkut ilmu psikologi, dan masalah psikologi yang ada.
Paling tidak, dengan melakukan konsultasi dengan psikolog online, anda bisa mengetahui garis besar jawaban dari pertanyaan anda, meskipun nantinya harus ada follow up di lain hari.

Kekurangan Psikolog Online

Meskipun memiliki beberapa kelebihan, namun demikian layanan psikologi online juga memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pertama adalah proses asesmen tidak berjalan maksimal, karena hanya mengandalkan pertanyaan satu arah saja dan tidak melibatkan observasi.
Psikolog hanya bisa melihat keadaan klien melalui email atau chat saja. Hal ini tentu saja menjadi kekurangan karena proses asesmen berjalan tidak lengkap dan optimal.
Berikutnya, yang bisa menjadi kekurangan dari layanan psikologi online adalah sulit melakukan intervensi psikologi. Intervensi psikologi sulit diterapkan secara online, karena membutuhkan beberapa kali pertemuan tatap muka. Karena itu, psikolog online tanpa adanya fasilitas pertemuan tatap muka bisa dianggap kurang efektif dalam menangani permasalahan psikologis seseorang.
Kelemahan dan kekurangan berikutnya dari layanan psikologi online adalah komunikasi yang kurang efektif, karena hanya menggunakan fitur seperti email dan chat saja. Untuk pertanyaan-pertanyaan singkat mungkin efektif. Namun apabila anda memiliki permasalahan yang cukup rumit, maka layanan psikologi online sepertinya bukan solusi terbaik yang bisa anda pilih.
Jadi, psikolog online merupakan layanan jasa psikologi online yang efektif apabila anda ingin bertanya tentang hal-hal yang simple dan sederhana, misalnya “Apakah saya mengalami gangguan kepribadian antisosial?” atau, “bagaimana saran terbaik untuk mengatasi phobia?”. Pertanyaan seperti ini mungkin bisa terjawab dengan layanan psikologi online. Namun, untuk permasalahan dan pertanyaan yang lebih kompleks dan rumit, psikolog online bisa dikatakan kurang efektif.

Berikut adalah link untuk layanan psikologi online : http://www.tanyapsikolog.com/

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI (TEST MBTI)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa psikologi dapat dikaitkan dengan bidang ilmu lainnya, yaitu sistem informasi. Contoh selanjutnya adalah tes kepribadian MBTI.

Test MBTI atau Myers Briggs Type Indicator, merupakan sebuah metode pengukuran berbentuk kuesioner yang digunakan untuk membaca kepribadian seseorang, khususnya untuk memahami bagaimana seseorang menilai sesuatu dan membuat keputusan, metode ini dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya Isabel Briggs Myers berdasarkan teori kepribadian yang dikemukakan oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya Psychological Types (1921M). Instrument tes yang mulai dikembangkan pada masa Perang Dunia Ke-II ini pertama dipublikasikan pada 1962M, dengan tujuan awal untuk membuat teori kepribadian C.G Jung ini dapat diaplikasikan dalam penggunaan praktis dan lebih mudah dimengerti, sehingga dapat membantu para pekerja untuk menemukan pekerjaan yang paling cocok dengan diri mereka.

Berbagai tes kepribadian memang telah dikenal dan dikembangkan selama beratus-ratus tahun lamanya, meski demikian sampai hari ini belum ada teori maupun alat tes yang benar-benar memiliki keaakuratan seratus persen dalam mengidentifikasikan tipe kepribadian manusia, hal ini tentu tidak lepas dari keterbatasan kemampuan manusia untuk mampu memahami cara kerja otak sebagai sebuah ciptaan Sang Kuasa yang ia ciptakan dengan begitu unik, sehingga menjadikan nyaris tidak ada manusia yang benar-benar sama di muka bumi ini (atau mungkin benar-benar tidak ada).

Tes Kepribadian MBTI yang masuk kedalam jenis tes kepribadian Objektif ini meskipun telah menjadi Tes Kepribadian yang boleh dikatakan terpopuler untuk jenisnya, dan telah dikenal sebagai salah satu Tes Kepribadian terakurat namun tetap saja tidak akan mampu terlepas dari ketidaksempurnaan ciptaan manusia. Namun demikian setidaknya jika kita menggunakan prinsip hukum 20/80  dari Vilfredo Pareto, yang berarti “kita dapat menggunakan alat ukur yang hanya mengukur 20% saja namun mampu mewakili sebagian besar (80%) aspek yang diukur”, maka kita dapat memahami tentang hasil test ini bahwa paling tidak dapat memberikan gambaran dari Tipe Kepribadian audiensnya (meskipun bukan cerminan sempurna).

Dimensi MBTI

Metode MBTI sendiri terbagi atas 4 dimensi utama yang bersifat dikotomi atau saling berlawan, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dengan mengetahuinya kita dapat memaksimalkan potensi kelebihan yang kita miliki, serta memninimalisir potensi kekurangan yang mungkin ada dalam diri kita. Meskipun bersifat dikotomi , kita akan tetap memiliki kedua bagian dari masing-masing dimensi yang terdapat dalam MBTI, dengan salah satunya akan lebih cenderung daripada yang lainnya. Berikut ini adalah 4 Skala MBTI yang bersifat dikotomi:

Extrovert (E) vs. Introvert (I): Orientasi Energi.

Dimensi EI melihat bagaimana seseorang mendapatkan energi mereka, dan bagaimana mereka menyalurkan energi mereka. Apakah mereka mendapatkan energi lebih dominan dari Lingkungan luar, ataukah dari dalam diri mereka sendiri. Extrovert mengambil energi dari lingkungan luar diri mereka (orang lain), mereka menyukai dunia luar, interaksi sosial atau bergaul adalah cara terbaik bagi mereka untuk menemukan energi mereka, mereka akan merasakan hidup saat semakin banyak orang yang berada di sekeliling mereka. Mereka berorientasi pada action, mereka akan lebih memilih untuk bertindak terlebih dahulu, lalu setelahnya barulah merefleksi apa yang mereka lakukan. Pribadi extrovert dominan baik dalam hal berinetraksi dengan orang lain, serta hal-hal yang bersifat operasional.Sedangkan Introvert, yang hanya memiliki sedikit sekali populasi jika dibanding Extrovert yakni hanya sebesar sekitar 25% dari populasi dunia adalah mereka yang mengumpulkan energi dari dalam diri mereka, mereka akan lebih memilih untuk memikirkan apa yang akan mereka lakukan, barulah melakukan hal tersebut. Mereka cenderung lebih senang menyendiri, dan merenung, tidak begitu suka bergaul dengan banyak orang, dan mereka cenderung menjadi pencetus ide yang baik. Umumnya mereka mampu bekerja sendiri, penuh konsentrasi dan focus.

Sederhananya introvert – extrovert dapat dibedakan dengan cara berikut:
Extrovert berorientasi pada tindakan, sementara Introvert berorientasi pada Ide.
Ekstrovert mencari “luasnya” pengetahuan dan pengaruh, sementara introvert mencari “kedalaman” pengetahuan dan pengaruh.
Extrovert lebih mementingkan seringnya interaksi, sementara introvert lebih mencari “kedalaman” dalam interaksi.
Extrovert mengisi kembali, dan mendapatan energi mereka dengan menghabiskan waktu bersana orang lain. Sedangkan introvert mengisi dan mendapatkan energi mereka dengan menyendiri. Dan mereka menggunakan energi mereka dengan cara sebaliknya.

Sensing (S) vs. Intuition (N): Cara Mengelola Informasi. 

Dimensi Sensing-intuiting (SN) melihat bagaimana individu memahami dan menilai sebuah informasi baru yang mereka terima. Seorang sensing umumnya sangat realistis, memandang imajinasi sebagai hal yang dramatis, dan banyak menghabiskan waktu. Mereka menilai sesuatu berdasarkan fakta yang jelas, realistis, mereka melihat informasi dengan apa adanya. Mereka berpedoman pada pengalaman, dan biasanya hanya menggunakan metode-metode yang telah terbukti. Fokus pada masa kini, sehingga baik dalam perencanaan teknis dan detail yang bersifat aplikatif.Sementara seorang intuition akan memprses data dengan melihat pola, dan hubungan, biasanya memiliki pemikiran yang abstrak, konseptual, serta melihat berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Mereka imajinatif, dan memilih cara untuk dan berfokus pada masa depan, yakni pada apa yang mungkin bisa dicapai di masa depan. Seorang intuiting adalah sosok yang inovatif, penuh inspirasi, ide unik. Mereka baik dalam menyusun konsep, ide, dan visi jangka panjang.

Thinking (T) vs. Feeling (F): Pengambilan Keputusan. 

Dimesi Thinking – Feeling (TF) adalah fungsi yang mengatur bagaimana seseorang dalam mengambil keputusan. Thinking adalah mereka yang selalu menggunakan logika, dan kekuatan analisa dalam mengambil keputusan. Mengambil keputusan dengan rasional berdasarkan informasi yang diperoleh fungsi penerima informasi (SN) mereka. Mereka cenderung konsisten, lugas, dan objektif, sehingga terkesan kaku, dan keras kepala.Sementara feeling adalah mereka yang melibatkan perasaan, empati serta nilai-nilai yang mereka yakini ketika hendak mengambil keputusan. Mereka berorientasi pada hubungan dan subjektif. Mereka akomodatif tapi sering terkesan memihak. Mereka empatik dan menginginkan harmoni. Bagus dalam menjaga keharmonisan dan memelihara hubungan.

Judging (J) vs. Perceiving (P): Orientasi Pada Struktur. 

Dimensi keempat dari MBTI ini mendeskripsikan tingkat fleksibilitas seseorang, dan sering disebut sebagai orientasi seseorang pada Dunia Luar. Judging adalah mereka yang memiliki gaya hidup yang terstruktur, dan mereka menentukan bagaimana mereka seharusnya hidup. Sedangkan Perceiving adalah mereka yang lebih fleksibel, dan lebih mudah untuk beradaptasi dengan gaya hidup yang ada disekeliling mereka.


Berikut adalah link untuk TES MBTI : https://mbti.anthonykusuma.com/

Sumber: http://www.si-pedia.com/2014/04/pengertian-apa-itu-tes-kepribadian-mbti.html

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI (BIG FIVE PERSONALITY)

Sistem informasi psikologi (SIP) adalah sebuah prosedur pelaksanaan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan yang digunakan untuk mengolah kumpulan data yang didalamnya meliputi bidang psikologi (perilaku manusia). Contoh nyata dari SIP adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, seperti Big Five Personality Test. 

Pada tahun 1980 terjadi peningkatan kualitas dan metode-metode modern khususnya pada factor analisis sehingga di pusat penelitian gerontology dari National institutes of healh di Baltimore, Maryland; Robert mcCrae dan Costa Paul memulai menidentifikasi lima factor kepribadian. Dimensi Cattell yang sebanyak 16 ini terlalu berlebihan untuk menentukan karakteristik manusia. Namun 5 dimensi dari 16 milik Cattell dan mengadopsi 3 dimensi milik Eysenk di rasa sudah cukup untuk mencakup struktur kepribadian. Semua peneliti trait menyetujui bahwa perbedaan individu di kelompokkan kedalam 5 trait besar yang kini lebih di kenal dengan “Big Five Personlity” yang kemudian di singkat dengan nama OCEAN.

Definisi dan teori OCEAN

OCEAN adalalah singkatan dari 5 trait besar pada teori big five personality yaitu Openness(O), Conscensiusness(C), Extraversion(E), Agreeableness(A), dan yang terakhir adalah Neuroticesm(N). Kelima dimensi inilah yang akan digunakan sebagai teknik menilai karakteristik-karakteristik dan tingkat kepribadian individu.

Openness(keterbukaan)

Merupakan dimensi yang paling sulit dideskripsikan, karena bahasa yang digunakan tidak sejalan dengan dimensi atau factor lain. Openness mengacu pada bagaimana seseorang mau atau bersedia melakukan penyesuain dengan ide-ide atau lingkungan baru. Menilai usahanya secara proaktif dan penghargaannya terhadap pengalaman. Mereka adalah orang-orang yang memiliki nilai imajinasi yang tinggi. Dimensi ini dapat membangun pertumbuhan pribadi. Openness mempunyai ciri mudah beroleransi, kapasitas untuk menyerap informas, menjadi seseorng yang sangat focus dan mampu untuk waspada pada perasaan, memiliki fikiran yang imfulsivitas. Seseorang dengan openness yang rendah cenderung memiliki pribadi dengan nilai kebersihan, kepatuhan dan keamanan bersama, namun berfikiran yang sempit, konservatif dan tidak menyukai perubahan.

Conscientioiusness (kesadaran)

Conscientiousness juga disebut sebagai dimensi dependability. Menilai kemampuan individu untuk berorganisasi, baik melalui ketekunan atau motivasi untuk mencapai tujuan dan menjadi pelaku langsung. Menggambarkan self discipline seseorang, di cirikan sebagai seorang dengan nilai kebersihan dan ambisi yang tinggi, seseorang yang well organize, tepat waktu. Mendeskripsikan terhadap lingkungan sosial, berfikir sebelum bertindak, menunda kepuasan, serta mengikuti peraturan, norma, terencana, dan mengutamakan tugas. Mereka dengan conscisntiousness yang tinggi cenderung mendengarkan kata hati dan mengejar sedikit tujuan dengan satu cara yang terarah, sedangkan yang memiliki nilai rendah pada dimensi ini akan cenderung menjadi pribadi yang kacau pikirannya mengejar banyak tujuan.

Extraversion (Ekstraversi).

Exrtaversion biasa disebut faktor domain patuh, faktor ini adalah dimensi paling penting dalam kepribadian. Kecenderungan untuk bersosialisasi dan membagi kasih sayang. Menilai kualitas dan intensitas hubungan interpersonal dengan motivasi yang tinggi untuk bergaul, memiliki kemampuan untuk berbahagia, dimensi ini menunjukan tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Meraka adalah orang-orang yang ramah, tegas serta menghabiskan banyak waktu untuk menikmati hubungan. Seseorang yang tinggi dalam dimensi ini cenderung penuh semangat antusias, dominan, ramah, dan komunikatif. Mereka mengingat semua interaksi sosial berinteraksi dengan lebih banyak orang. Sedangkan yang rendah pada dimensi ini akan lebih pemalu, kurang percaya diri dan pendiam.

 Agreeableness (keramahan)

Menilai kualitas orientasi individu dan kontinum nilai lemah lembut hingga yang antagonis dalam berfikir, perasaan dan perilaku. Dimensi ini menilai kecenderungan seseorang yang tunduk kepada orang lain mereka cenderung orang yang komperatif dan mudah bersepakat dan mempercayai orang lain, mengindari konflik namun di temukan masalah pada kepribadian ini mereka cenderung menjadi seseorng dengan self estem yang rendah saat berhadapan dengan konflik. Menghindari konflik karena tidak ingin menujukan kekuatan untuk menyelesaikanya.

Neuroticism (neoritisme)

Friedman (2006) menjelaskan bahwa neuroticism di sebut juga emotional distability. Trait ini menilai kestabilan dan ketidakstabilan emosi, menggambarkan seseorang yang mempunyai masalah dengan emosi yang bersifat negatif, secara emosional mereka labil. Trait ini juga mengidentifikasikan individu apakah mudah stres, mempunyai ide-ide yang tidak realitas. Seseorang dengan neuroticism yang tinggi cenderung gugup, sensitif, tegang dan mudah cemas dalam hal ini mereka akan mudah merasa khawatir dan tidak aman. Sedangkan seseorang dengan neuroticism yang rendah akan lebih mudah merasa puas, gembira dan emosi positif lain dalam kehidupannya. Seseorang dengan kecenderungan neuroticism yang tinggi selain sulit menjalin hubungan dan berkomitmen mereka juga memiliki tingkat self estem yang rendah atau dalam artian menjadi kurang menghargai diri sendiri.


Berikut adalah link untuk Big Five Personality Test : https://www.truity.com/test/big-five-personality-test

Sumber:
https://ahkammuhammad.wordpress.com/psikologi/teori/big-five-personality/