A. EMPOWERMENT
1. Pengertian
Empowerment
Ada berbagai perbedaan defenisi pemberdayaan (empowerment) yang dikemukakan oleh para
ahli. Menurut Noe et.al (1994) pemberdayaan adalah merupakan
pemberian tanggung jawab dan wewenang terhadap pekerjaan untuk mengambil
keputusan menyangkut semua pengembangan produk dan pengambilan keputusan.
Sedangkan menurut Khan (1997) pemberdayaan merupakan hubungan antar personal
yang berkelanjutan untuk membangun kepecayaan antar karyawan dan manajemen.
Byars dan Rue (1997) memberi pengertian empowerment
merupakan bentuk desentralisasi yang melibatkan pada bawahan dalam membuat
keputusan.
Dari defenisi di atas dapat diambil berbagai hal penting dari
pengertian pemberdayaan, yaitu : pertama, pemberian tanggung jawab dan wewenang
kepada karyawan. Kedua, menciptakan kondisi saling percaya antar manajemen dan
karyawan. Ketiga, adanya employee involvement yaitu melibatkan karyawan
dalam pengambilan keputusan.
2. Kunci
Efektif Empowerment dalam Manajemen
Konsep pemberdayaan (empowerment),
menurut Friedmann muncul karena adanya dua primise mayor, yaitu “kegagalan” dan
“harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah gagalnya model pembangunan ekonomi
dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan yang berkelanjutan,
sedangkan harapan muncul karena adanya alternatif-alternatif pembangunan yang
memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan gender, peran antara generasi dan
pertumbuhan ekonomi yang memadai. Dengan dasar pandangan demikian, maka
pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan peningkatan partisipasi
masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada masyarakat, sehingga pemberdayaan
masyarakat amat erat kaitannya dengan pemantapan, pembudayaan dan pengamalan
demokrasi. Selanjutnya Friedmann dalam Prijono dan Pranaka (1996) menyatakan
bahwa kekuatan aspek sosial ekonomi masyarakat menjadi akses terhadap
dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah tangga yaitu informasi, pengetahuan
dan ketrampilan, partisipasi dalam organisasi dan sumber-sumber keuangan, ada
korelasi yang positif, bila ekonomi rumah tangga tersebut meningkatk aksesnya
pada dasar-dasar produksi maka akan meningkat pula tujuan yang dicapai
peningkatan akses rumah tangga terhadap dasar-dasar kekayaan produktif mereka.
B. STRESS
1. Definisi
Stress
Menurut Robbins (2001), stress juga dapat diartikan sebagai
suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu
kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau
penghalang.
Menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi
ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang.
Sedangkan stress menurut Hans Selye (1976), merupakan respon
tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang
mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi
tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap
tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stress.
2. Sumber
Stress
·
Sumber-sumber stress di dalam diri seseorang :
Kadang-kadang sumber stress itu ada didalam diri seseorang. Salah satunya
melalui kesakitan. Tingkatan stress yang muncul tergantung pada rasa sakit dan
umur inividu (sarafino, 1990). Stress juga akan muncul dalam seseorang melalui
penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan, bila seseorang mengalami konflik.
Konflik merupakan sumber stress yang utama.
·
Sumber-sumber stress di dalam keluarga : Stress
di sini juga dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga,
seperti : perselisihan dalam masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh dan
tujuan-tujuan yang saling berbeda (sarafino, 1990).
·
Sumber-sumber stress di dalam komunitas dan
lingkungan : interaksi subjek diluar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber
stress. Contohnya: pengalaman stress anak-anak di sekolah dan di beberapa kejadian
kompetitif, seperti olahraga. Sedangkan beberapa pengalaman stress oang tua
bersumber dari pekerjaannya, dan lingkungan yang stressful sifatnya. Khususnya
‘occupational stress’ telah diteliti
secara luas.
·
Pekerjaan dan stress : Hampir semua orang didalam
kehidupan mereka mengalami stress sehubungan dengan pekerjaan mereka. Faktor-faktor
yang membuat pekerjaan itu ‘stressful’
ialah :
-
Tuntutan kerja : pekerjaan yang terlalu banyak
dan membuat orang bekerja terlalu keras dan lembur, karena keharusan mengerjakannya.
-
Jenis pekerjaan : jenis pekerjaan itu sendiri
sudah lebih ‘stressful’ dari pada jenis pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu
misalnya : jenis pekerjaan yang memberikan penilaian atas penampilan kerja
bawahannya (supervisi), guru, dan dosen.
-
Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab bagi
kehidupan manusia : contohnya tenaga medis mempunyai beban kerja yang berat dan
harus menghadapi situasi kehidupan dan kematian setiap harinya. Membuat
kesalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.
·
Stress yang berasal dari lingkungan : lingkungan
yang dimaksud disni adalah lingkungan fisik, seperti : kebisingan, suhu yang
terlalu panas, kesesakan, dan angin badai (tornado, tsunami). Stressor
lingkungan mencakup juga stressor secara makro seperti migrasi, kerugian akibat
teknologi modern seperti kecelakaan lalu lintas, bencana nuklir (Peterson dkk,
1991) dan faktor sekolah (Graham,1989).
3. Cara
Mengatasi Stress
Jefrey S. Nevid, dkk menjelaskan faktor-faktor psikologis yang dapat
meminimalisir gangguan stres. Faktor-faktor psikologis tersebut adalah :
a) Cara Coping Stres
Berpura-pura
seakan masalah tidak ada atau tidak terjadi merupakan sesuatu bentuk
penyangkalan. Penyangkalan merupakan suatu contoh coping yang
berfokus pada emosi (emotion-focused
coping) (Lazarus & Folkman, 1984). Pada coping yang berfokus
pada emosi, orang berusaha segera mengurangi dampak stresor, dengan menyangkal
adanya stresor atau menarik diri dari situasi. Namun, coping yang
berfokus pada emosi tidak menghilangkan stresor (sebagai contoh, suatu penyakit
yang serius) atau tidak juga membantu individu dalam mengembangkan cara yang
lebih baik untuk mengatur stresor. Sebaliknya, coping yang berfokus
pada masalah (Problem-focused coping)
orang menilai stresor yang mereka hadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah
stresor atau memodifikasi reaksi mereka untuk meringankan efek dari stresor
tersebut.
Coping yang
berfokus pada masalah melibatkan strategi untuk menghadapi secara langsung
sumber stres, seperti mencari informasi tentang penyakit dengan mempelajari
sendiri atau melalui konsultasi medis. Pencarian informasi membantu individu
untuk tetap bersikap optimis karena dengan pencarian informasi tersebut timbul
harapan akan mendapatkan informasi yang bermanfaat.
b) Harapan
akan Self-Efficary
Harapan akan self-efficary berkenaan
dengan harapan kita terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tantangan yang kita
hadapi, harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat menampilkan tingkah laku
terampil, dan harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat menghasilkan perubahan
hidup yang positif (Bandura, 1982, 1986). Kita mungkin dapat mengelola stres
dengan baik, termasuk stres karena penyakit, apabila kita percaya diri dan
yakin bahwa kita mampu mengatasi stres (memiliki harapan yang
tinggi).
c) Ketahanan
Psikologis
Ketahanan
psikologis (psychological hardiness) atau sekumpulan trait
individu yang dapat membantu dalam mengelola stres yang dialami. Penelitian
tentang ketahanan psikologis terutama adalah kontribusi dari Suzane Kobasa
(1979) dan koleganya yang menyelidiki para eksekutif bisnis yang memiliki
ketahanan terhadap penyakit meski mengalami beban stres yang berat. Tiga
perangai utama yang membedakan ketahanan psikologis para eksekutif tersebut
(Kobasa, Maddi, & Kahn, 1982, hal 162-170), yaitu
·
Komitmen yang tinggi
·
Tantangan yang tinggi
·
Pengendalian yang kuat terhadap hidup (Maddi
& Kobasa, 1984)
Secara psikologis orang yang ketahanan psikologisnya tinggi cenderung
lebih efektif dalam mengatasi stres dengan menggunakan
pendekatan coping yang berfokus pada masalah secara aktif (Wiliams,
Wiebe, & Smith, 1992).
d) Optimisme
Penelitian
menunjukan bahwa melihat gelas sebagai separuh penuh lebih sehat dibandingkan
melihat gelas sebagai setengah kosong (Scheicer dan Carver,1992). Dalam studi
tentang hubungan antara optimisme dengan kesehatan, Schiever dan Carver (1985)
mengukur optimism mahasiswa menggunakan Tes Orientasi Kehidupan (Life Orientation Test/LOT). Mahasiswa
juga diminta melacak simtom fisik mereka masing-masing selama 1 bulan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang mempunyai nilai optimisme lebih
tinggi melaporkan gejala fisik yang lebih sedikit seperti kelelahan, pusing,
pegal-pegal, dan penglihatan yang kabur (Gejala pada subyek penelitian di awal
penelitian diperhitungkan secara statistik sehingga dapat dikatakan bahwa studi
tersebut semata-mata menunjukkan bahwa orang yang lebih sehat lebih optimis).
e) Dukungan
Sosial
Peran dukungan social
sebagai penahan munculnya stres telah dibuktikan kebenarannya (misalnya, Wills
& Filer Fegan, 2001). Sebuah studi menunjukkan bahwa semakin luasnya
jaringan kontak sosial yang dimiliki seseorang berhubungan dengan semakin
besarnya resistansi/ketahanan terhadapa berkembangannya infeksi ketika
seseorang terkena virus flu biasa (Cohen, dkk, 1997). Para penyelidik percaya bahwa
memiliki kontak sosial yang luas membantu melindungi system kekebalan tubuh
terhadap stres.
C. KONFLIK
1. Definisi
Konflik
Konflik berasal
dari kata kerja latin configere yang berarti saling
memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial
antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan
Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol
akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat
menciptakan konflik.
2. Jenis
Konflik
Jenis Jenis
Konflik ditinjau dari segi materi atau masalah yang menjadi sumber konflik,
yaitu :
a)
Konflik tujuan. Adanya perbedaan tujuan
antarindividu, kelompok maupun organisasi bisa memunculkan konflik.
b)
Konflik peranan. Setiap manusia memiliki peran
lebih dari satu. Peran yang dimainkan dengan jumlah yang banyak tersebut,
seringkali memunculkan konflik.
c)
Konflik nilai. Nilai yang dianut seseorang
seringkali tidak sejalan dengan sistem nilai yang diatur oleh organisasi atau
kelompok. Hal ini dapat berpotensi untuk memunculkan konflik.
d)
Konflik kebijakan. Konflik ini muncul karena
seorang individu atau kelompok tidak sependapat dengan kebijakan yang
ditetapkan organisasi.
Jenis
Jenis Konflik menurut Mastenbroek ada 4, yaitu :
a)
Instrumental
Conflicts
Konflik ini
terjadi oleh karena ketidaksepahaman antar komponen dalam organisasi dan proses
pengoperasiannya.
b)
Socio-emotional
Conflicts
Konflik ini
berkaitan dengan masalah identitas, kandungan emosi, citra diri, prasangka,
kepercayaan, keterikatan, identifikasi terhadap kelompok, lembaga dan
lambang-lambang tertentu, sistem nilai dan reaksi individu dengan yang lainnya.
c)
Negotiating
Conflicts
Konflik negosiasi
adalah ketegangan-ketegangan yang dirasakan pada waktu proses negosiasi
terjadi, baik antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok.
d)
Power
and Dependency Conflicts
Konflik kekuasaan
dan ketergantungan berkaitan dengan persaingan dalam organisasi. Contoh :
pengamanan dan penguatan kedudukan yang strategis.
3. Proses
Terjadinya Konflik
Menurut Pondi,
Proses terjadinya konflik sebagai berikut:
a) Konflik
Laten (Latent Conflict)
Konflik Laten
merupakan tahap dari munculnya faktor-faktor penyebab konflik dalam organisasi.
Bentuk-bentuk dasar dari situasi ini ialah persaingan untuk memperebutkan
sumberdaya yang terbatas, konflik peran, persaingan perebutan posisi di dalam
organisasi.
b) Konflik
Yang Dipersepsikan (Perceived Conflict)
Pada tahap ini
salah satu pihak memandang pihak lain sebagai penghambat atau mengancam
pencapaian tujuannya.
c) Konflik
Yang Dimanifestasikan (Manifest Conflict)
Pada tahap ini
perilaku tertentu sebagai indikator konflik sudah mulai ditunjukkan, seperti
adanya sabotase, agresi terbuka, konfrontasi, rendahnya kinerja dan lain
sebagainya.
d) Resolusi
Konflik (Conflict Resolution)
Pada tahap ini
konflik yang terjadi diselesaikan dengan berbagai macam cara dan pendekatan.
e) Konflik
Aftermath
Jika konflik sudah
benar-benar diselesaikan maka hal itu akan meningkatkan hubungan para anggota
organisasi. Hanya saja jika penyelesaian konflik tidak tepat, maka akan dapat
menimbulkan konflik yang baru.
D. KOMUNIKASI
1. Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare
atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama.
Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha
agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.
Beberapa definisi komunikasi adalah:
a) Komunikasi
adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang
pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
b) Komunikasi
adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang
lain (Davis, 1981).
c) Komunikasi
adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
d) Komunikasi
adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain,
komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).
2. Hambatan
dalam Komunikasi
a) Hambatan
dari Proses Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan
disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini
dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
b) Hambatan
dalam penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak
jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan
antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan
terlalu sulit.
c) Hambatan
media
Hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi,
misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat
mendengarkan pesan.
d) Hambatan
dalam bahasa sandi
Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima.
e) Hambatan
dari penerima pesan
Misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima atau mendengarkan
pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih
lanjut.
f) Hambatan
dalam memberikan balikan
Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan
tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
g) Hambatan
Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif,
cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan,
gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
h) Hambatan
Semantik
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi
kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau
berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.
i)
Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu
komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara
pengirim dan penerima pesan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar