Minggu, 28 Juni 2015

Teori Kreativitas Psikoanalisa dan Kaitannya dengan Film

Hearty paws

               
Hearty Paws adalah film Korea Selatan pada tahun 2006 yang disutradarai oleh Oh Da-gyoon. Film ini bercerita tentang kesetiaan seekor anjing yang bernama Hearty kepada tuannya yaitu Chan seorang anak yang berusia 11 tahun dan adikknya Soi. Ibunya pergi dan menelantarkan mereka sejak ayahnya meninggal. Chan dan Soi ingin sekali mencari ibunya. Namun belum sempat mencari, terjadi kecelakaan yang menimpa Soi saat sedang bermain di lapangan es bersama Hearty. Soi tenggelam dan akhirnya meninggal. Kini Chan hanya seorang diri. Chan berniat pergi mencari ibunya, namun setelah bertemu ibunya tetap tidak menginginkan Chan. Hearty selalu mengikuti kemana pun Chan pergi. Kemudian Chan dan Hearty berusaha bertahan hidup dengan bergabung menjadi pengemis. suatu hari Chan melihat Hearty tengah mengusap-usap matanya, dengan rasa iba Chan membawa Hearty ke dokter hewan. Dokter mengatakan bahwa Hearty mengidap penyakit glukoma yang sudah akut dan tidak bisa hidup lebih lama lagi. Akhirnya Hearty menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Chan.

Teori kreativitas psikoanalisa Sigmund Freud

Menurut beberapa pakar psikologi kemampuan kreatif merupakan ciri kepribadian yang menetapkan pada lima tahun pertama dari kehidupan. Sigmund Freud (1856-1939) adalah tokoh yang menganut pandangan ini. Ia menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak diterima. Karena mekanisme pertahanan mencegah pengamatan yang cermat dari dunia, dan karena menghabiskan energi psikis, mekanisme pertahanan biasanya merintangi produktivitas kreatif.

Dalam film ini, di usia Chan yang masih belia ia sudah mendapat pengalaman-pengalaman buruk mengenai kehilangan orang-orang yang ia cintainya. Kaitannya dengan  teori freud adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan Chan serta upaya-upaya Chan untuk melangsungkan kehidupannya. Yaitu dengan pergi mencari ibunya ke kota, sampai menjadi pengemis untuk demi menyambung hidupnya. 

Sabtu, 18 April 2015

video softskill Peng. Kreativitas & Keberbakat

Nama ketua : Intan Nurul P

Nama anggota : 1. Bunga Anggrit S

                          2. Salma Loversa

                          3. Siti Annisa N. K. P. B

                          4. Vinda Tifani P

Kelas : 1 PA 02





Selasa, 14 April 2015

Kasus dan Teori Emosi


Nama   : Salma Loversa
Kelas    : 1PA02
NPM     : 19514949
Tugas   : Psikologi Umum 2

Divonis 15 Tahun, Guru Ngaji yang Cabuli 29 Muridnya Pingsan
Deden Rahadian – detikNews


Bandung-Asep Kamaludin, terdakwa kasus sodomi terhadap 29 anak di Tasikmalaya, Jawa Barat, jatuh pingsan saat majelis hakim membacakan vonis. Ia divonis 15 tahun penjara dengan denda Rp. 200juta.
Sidang yang dipimpin majelis Hakim Panjaitan baru dimulai pukul 16.00 WIB, di PN Tasikmalaya, Senin (13/4/2015). Hakim memintanya berdiri, “menjatuhkan vonis pidana pernjara 15 tahun dan denda Rp. 200juta…” ujar hakim. Belum jelas majelis hakim membacakan putusannya, guru ngaji yang tega mencabuli 29 orang anak didiknya ini jatuh terhempas ke lantai ruang persidangan dan tak sadarkan diri.
Pengacara terdakwa dibantu petugas pengadilan berusaha mendudukan terdakwa di kursi persakitan. Namun upaya menyadarkan Asep gagal meski sudah diberi minyak penghangat tubuh dan air mineral. Tangan Asep juga semakin mengeras, layaknya orang kejang hingga terpaksa tubuhnya ditidurkan dikursi pengunjung siding.
Melihat itu, kuasa hukumnya tetap meminta majelis hakim meneruskan pembacaan vonisnya. Uasai siding ditutup, Asep yang masih tak sadarkan diri dibawa petugas keluar ruang siding. Asep langsung mendapatkan perawatan di salah satu ruang untuk memulihkan kondisi.
“kilen saya shock divonis berat. Majelis hakim tidak mempertimbangkan keringanan sepanjang proses hukum terdakwa.” ujar Kuasa Hukum Asep, Dwi Adi Cahyadi.
Sementara itu Humas PN Tasikmalaya Agus, menyatakan vonis yang dijatuhkan pada Asep sudah setimpal dengan perbuatannya. “majelis hakim sudah tepat menjatuhi hukuman terhadap Asep Kamaludin karena perbuatannya tergolong kejahatan berat.” Tandasnya.
Sebelum menjalani siding vonis, Asep sempat mengutarakan kesiapannya kepada wartawan, ia mengaku menyesali perbuatannya. “saya siap menerima apapun keputusan majelis hakim meski itu berat, saya menyesal pak.” Ujarnya lirih.
Kasus diatas, sesuai dengan teori emosi dan kondisi tubuh. pada teori ini, jika orang mengalami emosi maka akan terjadi perubahan dalam jasmaninya. seperti teori James-Lange yang dikemukakan oleh psikolog amerika William James dan psikolog Eropa Carl Lange pada akhir abad ke-19. Teori ini dikatakan bahwa emosi merupakan persepsi dari keadaan jasmani. Faktor terpenting dari emosi yang dirasakan oleh umpan balik dari perubahan kejasmanian yang karena menghadapi situasi yang menakutkan atau membahayakan. Sama halnya dengan emosi yang dirasakan oleh Asep saat mendengar hakim menjatuhkan vonis pidana, yaitu terkejut hingga menyebabkan perubahan kejasmaniannya, yaitu jatuh pingsan dan kejang-kejang karena ia sedang menghadapi situasi yang menakutkan atau membahayakan dirinya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa serangkaian kejadian dalam keadaan emosi yaitu:

      1.      Kita menerima situasi yang menghasilkan        emosi
      2.      Kita bereaksi terhadap situasi tersebut
      3.      Kita memperhatikan reaksi kita


Sumber : http://news.detik.com/read/2015/04/13/183752/2886140/486/divonis-15-tahun-guru-ngaji-yang-cabuli-29-muridnya-pingsan

Minggu, 22 Maret 2015

my future goal

    Setiap orang memiliki cita-citanya masing-masing. Cita-cita bisa terwujud ketika kita bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Dulu cita-cita saya adalah ingin menjadi penari tradisional. saya ingin mempunyai sanggar tari sendiri. Saya berminat untuk mengambil kuliah jurusan seni tari namun dilarang oleh orang tua saya karna menurut mereka tarian bisa dipelajari diluar kuliah. Saya juga berpikir demikian jadi saya tidak terlalu kecewa. Sekarang cita-cita saya adalah menjadi psikolog. Awal mula saya bercita-cita demikian adalah karena saudara saya yang berprofesi sebagai guru olahraga SD dan dia bilang sama saya "aku sempet belajar sedikit tentang psikologi, seru banget bisa tau tentang karakter-karakter orang yang berbeda-beda, bisa tau gimana cara menyelesaikan masalah dengan baik" dan dari situ saya berminat untuk mendalami dunia psikologi. Kedua orang tua saya pun mendukung pilihan saya. Teman-teman saya juga demikian, karena dari dulu saya suka mendengarkan cerita-cerita mereka dan menurut saya ketika saya bisa memberikan solusi dan bisa membantu mereka, itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk saya. Tapi saya sempat ragu dengan jurusan psikologi karna banyak sekali tanggapan orang tentang jurusan psikologi. Dari mulai sulit mendapat pekerjaan, banyak yang menyimpang dan alasan-alasan lain yang sebenarnya tidak masuk akal. Lalu berpindah haluan ingin masuk ke jurusan sosiologi, tetapi saya berpikir saya lebih ingin fokus mempelajari manusia dan proses mentalnya bukan sosiologi yang fokus pada manusia dimasyarakat. Lalu saya bercerita kepada teman saya yang juga berminat masuk jurusan psikologi, saya bertanya harus pilih yang mana. Dia bilang "pilih sesuai keinginan lo,kalo lo pilih sesuai keinginan insyaallah jalannya mudah,rezeki udah ada yang ngatur tinggal gimana usaha kita buat dapetin rezeki itu". Semenjak itu saya yakin lagi untuk mengambil jurusan psikologi. Setelah lulus SMA saya mendaftar di unj jurusan psikologi, uns jurusan design interior dan upi jurusan psikologi. Tadinya saya ingin mendaftar di pnj karena menurut kaka kelas saya kalau kita punya sertifikat dari pnj akan lebih mudah. Jadi saya dulu pernah ikut lomba tari saman yang diselenggarakan oleh pnj dan mendapat juara 1. Tapi karna di pnj tidak ada jurusan yang saya minati jadi saya tidak mendaftar di pnj. Saya mendaftar jurusan design interior hanya asal-asalan tapi ternyata itu ada tesnya, akhirnya saya mengikuti tes gambar di unj. Saya kesana bersama teman saya yang salah mendaftar juga seperti saya. Sebelum tes kita sangat tegang karena minim nya basic menggambar dan peserta lain sangat serius. Namun saya tidak lolos di universitas negri yang saya daftarkan. Selanjutnya saya mencari universitas swasta yang fakultas psikologinya terakreditasi A dan saya memilih universitas gunadarma. Sejauh ini saya sangat menikmati belajar psikologi karena materinya berhubungan dengan kehidupan sehari-hari sehingga tidak membosankan. Psikolog indonesia favorit saya adalah Tika Bisono. Disalah satu seminarnya yang saya hadiri beliau pernah berkata "ketika kita coba buat menyelesaikan masalah orang, kita harus selalu siap ada untuk dia. Buat dia tidak merasa sendirian, karena ketika ia merasa ada orang disampingnya, ia akan lebih mudah bangkit". Saya ingin membantu banyak orang dengan ilmu psikologi yang saya pelajari. Karna pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa sendiri dan membutuhkan orang lain dalam hal apapun. Saya juga masih ingin suatu saat nanti bisa mempunyai sanggar tari sendiri. Semoga cita-cita saya terwujud aamiin.

Senin, 05 Januari 2015

RESENSI NOVEL

MIMPI SEJUTA DOLLAR

Penulis     : Alberthiene Endah
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman   : 368
Harga buku   : Rp. 63.000,-


Mimpi Sejuta Dolar mengisahkan tentang perjalanan Merry Riana, seorang wanita luar biasa yang mencapai awal mula titik kesuksesannya di usia 26 tahun, saat ia memiliki penghasilan 1 juta dolar dari pekerjaannya sebagai Financial Planner profesional yang memiliki perusahaan dan tim marketingnya sendiri dengan kantor berlokasi di Singapore.
Keberadaan Merry Riana di Singapore pada awalnya bukanlah sebuah keinginan. Melainkan keterpaksaan yang dipicu oleh kerusuhan di Indonesia pada tahun 1998. Pada saat itu, warga keturunan Tionghoa keadaannya sangat memprihatinkan dan kerap menjadi korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Saat itu Merry, baru saja menyelesaikan pendidikan SMA-nya dan berniat meneruskan ke Universitas Trisakti. Sayangnya, karena keadaan yang memanas akhirnya kedua orang tuanya memilih untuk mengirimkan dia ke Singapore dan melanjutkan pendidikannya di Nanyang Technological University (NTU), sekaligus mengamankan Merry dari hal-hal yang tidak diinginkan. Merry mendapat bantuan pinjaman biaya kuliah dari bank Singapura sebesar 40 ribu dolar dan harus melunasinya ketika Merry lulus kuliah. Sebuah langkah yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh keluarga sederhana itu.
Kehidupannya di NTU pun tak semulus yang ia bayangkan. Merry harus bertahan dengan uang 10 dolar Singapore selama 1 minggu. Jadilah Merry hidup dalam hari-hari yang serba memprihatinkan. Berbeda dengan teman-temannya yang lebih berada, Merry benar-benar harus berhemat untuk bertahan menghadapi semester-semester awal yang sangat berat di NTU. Ia tidak ingin membebani orang tuanya lagi, karena itu Merry tidak pernah memberitahukan pada orang tuanya bagaimana ia menjalani hidup di NTU. Merry berusaha menjaga nilai-nilainya tetap baik di kampus NTU yang terkenal sulit, namun yang paling membuatnya menderita bukan tuntutan nilai tapi perjuangan menahan rasa lapar selama awal-awal kuliah di NTU. Merry berusaha berhemat dengan berbagai macam cara, setiap pagi ia sarapan mie instant, lalu ketika siang ia makan roti tawar tanpa selai atau kalau pun ia makan siang (yang tidak bisa setiap hari dilakukan), Merry akan  memilih menu paling murah yang bisa ia temukan di kantin NTU, dan malam biasanya ia tidak makan malam. Itulah pola makan Merry selama masa awal kuliah di NTU. Namun dari sana, suatu tekad mulai bangkit dalam diri Merry, yaitu bahwa ia tidak ingin hidup miskin, ia tidak ingin merasakan kelaparan lagi, dan yang terutama ia tidak ingin hidup dalam lilitan serba kekurangan uang. Berbagai pekerjaan dilakukannya dari mulai membagikan brosur, lalu menjadi pegawai florist atau toko bunga sampai juga menjadi pelayan Banquet di hotel. Merry akhirnya dapat memenuhi kebutuhannya dan dalam masa kesusahannya tersebut, dia bertemu dengan Alva Tjenderasa seorang mahasiswa jurusan Mesin yang akhirnya akan menjadi teman, partner bisnis dan juga suaminya.
Alva merupakan orang yang suka membaca buku, berpikiran tenang dan juga selalu mendukung Merry serta memberikan saran-saran yang baik untuk kehidupan serta pekerjaannya.
Setelah lulus akhirnya Merry pun mencoba mencari pekerjaan untuk mewujudkan keinginannya dimana dia harus mencapai kebebasan finansial sebelum usia 30 tahun. Dia bersama Alva pernah mengeluarkan uang yang begitu besar hanya untuk mengikuti seminar Anthony Robbins dan akhirnya karena kenekatannya maka Merry bisa berfoto dengan Anthony Robbins. Jatuh bangun dialami oleh Merry dimana dia pernah ditipu oleh bisnis MLM, lalu juga kalah ketika bermain saham. Dia juga pernah ditolak beasiswanya saat magang di perusahaan yang ternama. Namun semuanya tersebut dijadikan lecutan untuk dapat lebih semangat lagi dalam mencapai tujuannya.
Rencananya semula untuk menjadi professional seperti teman-teman yang lain akhirnya tidak dipilih. Merry memilih rencana untuk berwirausaha. Namun akhirnya Merry menjatuhkan pilihan menjadi agen asuransi dan produk perbankan yang kemudian membawanya menuju jalan kesuksesan. Meskipun kantor pertamanya sangat kecil dan tidak bagus namun Merry memantapkan dirinya. Berbagai tantangan seperti ditolak oleh orang sering dialami, Merry juga pernah ingin berhenti dan menangis karena jiwanya sebagai wanita yang rapuh kadang muncul. Namun Alva selalu mendukung dan memberikan motivasi serta dukungan agar Merry terus berusaha. Alva memilih sebagai analisis lapangan dimana dia memberikan strategi kepada Merry untuk menawarkan produknya kepada orang-orang.
Akhirnya Merry mencapai apa yang diinginkannya dan dia sekarang dikenal sebagai seorang yang meraih 1 juta dolar di usia 26 tahun. Sudah banyak seminar di kawasan Asia yang mengundangnya untuk  menjadi pembicara. Merry pun mendirikan organisasi yaitu Merry Riana Organization yang merupakan organisasi menawarkan produk finansial. Sempat merasa ada kekosongan diri namun akhirnya melalui seminar Anthony Robbins, maka Merry dapat mengisi kekosongan tersebut dengan cara berbagi kepada orang yang ada. Dengan tekad dimana ingin memberi dampak kepada 1 juta orang di Asia, khususnya di Indonesia maka Merry sekarang menjadi motivator untuk memotivasi setiap orang yang ingin meraih kesuksesannya.
Cara penyampaian isi buku dijelaskan dengan baik, sederhana dan tidak rumit. Sehingga, pembaca dari berbagai kalangan dapat memahami dan mencerna dengan baik isi buku ini. Banyak kelebihan dari buku yang ditulis oleh Alberthiene Endah, penulis yang sudah berpengalaman. Dalam buku ini, pembaca ditekankan untuk meneladani kisah Merry Riana dan mengambil nilai intrinsik di dalamnya. Tidak ada kekurangan yang terlihat dari buku ini. Buku ini dikemas dengan sempurna oleh penulis.
Pesan moral :

Dalam novel ini, banyak pelajaran sukses yang tersirat dan tersurat. Tapi meskipun berjudul Mimpi Sejuta Dolar, pelajaran utama yang saya dapat justru bukan kekuatan sebuah mimpi, melainkan lebih kepada nilai keberanian, kedekatan dengan Tuhan, dan bagaimana kondisi terdesak mengeluarkan semua potensi dalam diri kita yang bahkan tidak kita sadari. Itulah Merry Riana.