Senin, 05 Januari 2015

RESENSI NOVEL

MIMPI SEJUTA DOLLAR

Penulis     : Alberthiene Endah
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman   : 368
Harga buku   : Rp. 63.000,-


Mimpi Sejuta Dolar mengisahkan tentang perjalanan Merry Riana, seorang wanita luar biasa yang mencapai awal mula titik kesuksesannya di usia 26 tahun, saat ia memiliki penghasilan 1 juta dolar dari pekerjaannya sebagai Financial Planner profesional yang memiliki perusahaan dan tim marketingnya sendiri dengan kantor berlokasi di Singapore.
Keberadaan Merry Riana di Singapore pada awalnya bukanlah sebuah keinginan. Melainkan keterpaksaan yang dipicu oleh kerusuhan di Indonesia pada tahun 1998. Pada saat itu, warga keturunan Tionghoa keadaannya sangat memprihatinkan dan kerap menjadi korban dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Saat itu Merry, baru saja menyelesaikan pendidikan SMA-nya dan berniat meneruskan ke Universitas Trisakti. Sayangnya, karena keadaan yang memanas akhirnya kedua orang tuanya memilih untuk mengirimkan dia ke Singapore dan melanjutkan pendidikannya di Nanyang Technological University (NTU), sekaligus mengamankan Merry dari hal-hal yang tidak diinginkan. Merry mendapat bantuan pinjaman biaya kuliah dari bank Singapura sebesar 40 ribu dolar dan harus melunasinya ketika Merry lulus kuliah. Sebuah langkah yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh keluarga sederhana itu.
Kehidupannya di NTU pun tak semulus yang ia bayangkan. Merry harus bertahan dengan uang 10 dolar Singapore selama 1 minggu. Jadilah Merry hidup dalam hari-hari yang serba memprihatinkan. Berbeda dengan teman-temannya yang lebih berada, Merry benar-benar harus berhemat untuk bertahan menghadapi semester-semester awal yang sangat berat di NTU. Ia tidak ingin membebani orang tuanya lagi, karena itu Merry tidak pernah memberitahukan pada orang tuanya bagaimana ia menjalani hidup di NTU. Merry berusaha menjaga nilai-nilainya tetap baik di kampus NTU yang terkenal sulit, namun yang paling membuatnya menderita bukan tuntutan nilai tapi perjuangan menahan rasa lapar selama awal-awal kuliah di NTU. Merry berusaha berhemat dengan berbagai macam cara, setiap pagi ia sarapan mie instant, lalu ketika siang ia makan roti tawar tanpa selai atau kalau pun ia makan siang (yang tidak bisa setiap hari dilakukan), Merry akan  memilih menu paling murah yang bisa ia temukan di kantin NTU, dan malam biasanya ia tidak makan malam. Itulah pola makan Merry selama masa awal kuliah di NTU. Namun dari sana, suatu tekad mulai bangkit dalam diri Merry, yaitu bahwa ia tidak ingin hidup miskin, ia tidak ingin merasakan kelaparan lagi, dan yang terutama ia tidak ingin hidup dalam lilitan serba kekurangan uang. Berbagai pekerjaan dilakukannya dari mulai membagikan brosur, lalu menjadi pegawai florist atau toko bunga sampai juga menjadi pelayan Banquet di hotel. Merry akhirnya dapat memenuhi kebutuhannya dan dalam masa kesusahannya tersebut, dia bertemu dengan Alva Tjenderasa seorang mahasiswa jurusan Mesin yang akhirnya akan menjadi teman, partner bisnis dan juga suaminya.
Alva merupakan orang yang suka membaca buku, berpikiran tenang dan juga selalu mendukung Merry serta memberikan saran-saran yang baik untuk kehidupan serta pekerjaannya.
Setelah lulus akhirnya Merry pun mencoba mencari pekerjaan untuk mewujudkan keinginannya dimana dia harus mencapai kebebasan finansial sebelum usia 30 tahun. Dia bersama Alva pernah mengeluarkan uang yang begitu besar hanya untuk mengikuti seminar Anthony Robbins dan akhirnya karena kenekatannya maka Merry bisa berfoto dengan Anthony Robbins. Jatuh bangun dialami oleh Merry dimana dia pernah ditipu oleh bisnis MLM, lalu juga kalah ketika bermain saham. Dia juga pernah ditolak beasiswanya saat magang di perusahaan yang ternama. Namun semuanya tersebut dijadikan lecutan untuk dapat lebih semangat lagi dalam mencapai tujuannya.
Rencananya semula untuk menjadi professional seperti teman-teman yang lain akhirnya tidak dipilih. Merry memilih rencana untuk berwirausaha. Namun akhirnya Merry menjatuhkan pilihan menjadi agen asuransi dan produk perbankan yang kemudian membawanya menuju jalan kesuksesan. Meskipun kantor pertamanya sangat kecil dan tidak bagus namun Merry memantapkan dirinya. Berbagai tantangan seperti ditolak oleh orang sering dialami, Merry juga pernah ingin berhenti dan menangis karena jiwanya sebagai wanita yang rapuh kadang muncul. Namun Alva selalu mendukung dan memberikan motivasi serta dukungan agar Merry terus berusaha. Alva memilih sebagai analisis lapangan dimana dia memberikan strategi kepada Merry untuk menawarkan produknya kepada orang-orang.
Akhirnya Merry mencapai apa yang diinginkannya dan dia sekarang dikenal sebagai seorang yang meraih 1 juta dolar di usia 26 tahun. Sudah banyak seminar di kawasan Asia yang mengundangnya untuk  menjadi pembicara. Merry pun mendirikan organisasi yaitu Merry Riana Organization yang merupakan organisasi menawarkan produk finansial. Sempat merasa ada kekosongan diri namun akhirnya melalui seminar Anthony Robbins, maka Merry dapat mengisi kekosongan tersebut dengan cara berbagi kepada orang yang ada. Dengan tekad dimana ingin memberi dampak kepada 1 juta orang di Asia, khususnya di Indonesia maka Merry sekarang menjadi motivator untuk memotivasi setiap orang yang ingin meraih kesuksesannya.
Cara penyampaian isi buku dijelaskan dengan baik, sederhana dan tidak rumit. Sehingga, pembaca dari berbagai kalangan dapat memahami dan mencerna dengan baik isi buku ini. Banyak kelebihan dari buku yang ditulis oleh Alberthiene Endah, penulis yang sudah berpengalaman. Dalam buku ini, pembaca ditekankan untuk meneladani kisah Merry Riana dan mengambil nilai intrinsik di dalamnya. Tidak ada kekurangan yang terlihat dari buku ini. Buku ini dikemas dengan sempurna oleh penulis.
Pesan moral :

Dalam novel ini, banyak pelajaran sukses yang tersirat dan tersurat. Tapi meskipun berjudul Mimpi Sejuta Dolar, pelajaran utama yang saya dapat justru bukan kekuatan sebuah mimpi, melainkan lebih kepada nilai keberanian, kedekatan dengan Tuhan, dan bagaimana kondisi terdesak mengeluarkan semua potensi dalam diri kita yang bahkan tidak kita sadari. Itulah Merry Riana.